Dan pada akhirnya semua akan kembali seperti dulu, kembali saat kita tak saling kenal.
Engkau yang dulu menyapaku bersama desahan embun, tak kan lagi ku dapati. Engkau yang dulu berbincang hangat bersamaku, saling berbagi masalah antara satu sama lain, itu akan sulit ku jumpai di hari esok.
Ku pikir, keadaan ini tak akan lama, tapi nyatanya kau mendiamkanku, seolah aku t’lah tiada bagimu. Mencoba memulai mencairkan keadaan, tapi ini sulit, sulit untukku yang tak mengetahui banyak tentangmu.
Aku menyerah.
Dan jiwaku memang t’lah mati untukmu.
Tahu bahwa aku harus bangkit, membuang semua ideologi bahwa kau akan kembali memilihku menjadi seorang yang kau percaya.
Meyakinkan diri bahwa semua ini harus diakhiri, membuang harapan tentang dirimu.
Harapan, satu kata yang aku maknai darimu.
Harapanlah yang sampai membuatku bertaruh.
Dan pada akhirnya semua memang harus kembali seperti dahulu.
